Bolehkah Kita Membaca Dan Mempercayai Ramalan Bintang Zodiak Dan Shio?

No Comment Friday, December 20, 2019
Bolehkah Kita Membaca Dan Mempercayai Ramalan Bintang Zodiak Dan Shio? - Seringkali kita menemukan sebuah kutipan di koran ataupun di salah satu aplikasi browser pada gadget yang menampilkan widget berisi ramalan-ramalan bintang yang membahas mengenai nasib seseorang di masa sekarang, seperti jodoh, rezeki, karir, bahkan hingga karakter atau kepribadian.

Apakah dalam islam kita boleh membaca dan meyakini semua yang ada pada prediksi ramalan bintang tersebut? sebenarnya kita tidak boleh membaca ramalan bintang apalagi meyakininya, sebab ada beberapa alasan yang mendasari hal itu.

Inilah Alasan Mengapa Umat Islam Tidak Boleh Percaya Pada Ramalan Bintang

Larangan Agama Islam Mempercayai Ramalan Bintang Zodiak Dan Shio
Simbol-simbol ramalan bintang zodiak | Pixabay Alexas_Fotos

A. Amalan Orang-Orang Kafir Di Masa Jahiliyah


Ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia (Al Lajnah Ad Daimah) di masa silam, Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz pernah ditanya mengenai hukum membaca ramalan bintang, zodiak dan sejenisnya.

Jawaban beliau rahimahullah:
Yang disebut ilmu bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya.
Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik.
Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin.

Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اقْتَبَسَ عِلْمًا مِنَ النُّجُومِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ
"Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah." (HR. Abu Daud no. 3905, Ibnu Majah no. 3726 dan Ahmad 1: 311). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits tersebut hasan.

Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang jayyid dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ
"Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya."

B. Mengingkari Kebesaran Allah


Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan kaahin (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut.

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ
"Katakanlah: Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah" (QS. An Naml: 65).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barangsiapa yang mendatangi dukun atau tukang ramal, lalu ia membenarkannya, maka ia berarti telah kufur pada Al Qur’an yang telah diturunkan pada Muhammad." (HR. Ahmad no. 9532). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.

Jadi bila kita percaya akan ramalan maka sama saja kita telah ingkar terhadap kebesaran Allah atas semua perkara ghaib yang ada di dunia, serta mengkufuri petunjuk Al Qur'an sebagai pedoman hidup untuk semua umat.
Baca juga:

C. Hukum Islam Mengenai Orang Yang Membaca Dan Percaya Pada Suatu Ramalan


Syaikh Sholih Alu Syaikh –hafizhohullah– mengatakan:
“Jika seseorang membaca halaman suatu koran yang berisi zodiak yang sesuai dengan tanggal kelahirannya atau zodiak yang ia cocoki, maka ini layaknya seperti mendatangi dukun. Akibatnya cuma sekedar membaca semacam ini adalah tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari. Sedangkan apabila seseorang sampai membenarkan ramalan dalam zodiak tersebut, maka ia berarti telah kufur terhadap Al Qur’an yang telah diturunkan pada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat At Tamhid Lisyarh Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sholih Alu Syaikh pada Bab “Maa Jaa-a fii Tanjim”, hal. 349)

Dalam hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
"Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima." (HR. Muslim no. 2230).

Maksud tidak diterima shalatnya selama 40 hari dijelaskan oleh An Nawawi: "Adapun maksud tidak diterima shalatnya adalah orang tersebut tidak mendapatkan pahala. Namun shalat yang ia lakukan tetap dianggap dapat menggugurkan kewajiban shalatnya dan ia tidak butuh untuk mengulangi shalatnya."  (Syarh Muslim, 14: 227)

Jadi sangat jelas sekali bahwa membaca sebuah ramalan bintang sama saja seperti mendatangi seorang peramal dan hal itu telah diharamkan, serta pahala sholat kita tidak akan diterima selama 40 hari.
Sedangkan bagi orang-orang yang telah mempercayai ramalan bintang tersebut maka dia termasuk dalam orang-orang yang kufur terhadap Al Qur'an yang telah menjelaskan bahwa semua pengetahuan ilmu ghaib hanyalah di sisi Allah.

D. Tujuan Allah Menciptakan Bintang Langit


1. Sebagai Petunjuk Arah
Dalam firman Allah di Al-Qur'an sudah dijelaskan:

وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ
"Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk." (QS. An Nahl: 16)

Melalui benda langit tersebut Allah memberikan tanda-tanda yang dapat mereka gunakan sebagai petunjuk di bumi dan sebagai tanda-tanda di langit untuk para musafir maupun nelayan di laut.

2. Sebagai Penghias Langit
Sebagaimana yang telah disebutkan dalam firman Allah:

وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ
"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang." (QS. Al Mulk: 5)

إِنَّا زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِزِينَةٍ الْكَوَاكِبِ
"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang." (QS. Ash Shofaat: 6)

3. Sebagai Senjata Untuk Melempari Jin Dan Setan
Selain sebagai petunjuak arah dan juga penghias langit, bintang dilangit ternyata diciptakan sebagai senjata untuk memerangi para jin dan setan yang bersekutu dengan peramal untuk mencuri berita yang ada di langit.

وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ
"Dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala." (QS. Al Mulk: 5)

Setan mencuri berita dari langit dengan menguping percakapan para malaikat. Lalu ia akan memberitahukannya kepada tukang sihir dan peramal. Akan tetapi, Allah senantiasa menjaga langit dengan percikan api yang lepas dari bintang sebagai senjatanya, maka binasalah para pencuri berita langit tersebut.

Apalagi ketika diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, langit terus dilindungi oleh senjata percikan api.  Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَنْ يَسْتَمِعِ الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَدًا, وَأَنَّا لا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الأرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا
"Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka." (QS. Al Jin: 9-10).

Jadi informasi yang berhasil mereka curi sangatlah sedikit sekali, dan selebihnya hanyalah sebuah kebohongan besar yang telah dibuat-buat oleh si peramal untuk menghasut pengikutnya agar bisa terkena tipu daya mereka.

Kesimpulan:
Dengan begini kita dapat menyimpulkan bahwa membaca sebuah ramalan bintang seperti zodiak dan shio ataupun sejenisnya merupakan hal yang diharamkan oleh Allah dan bisa membuat kita rugi karena sholat kita tidak akan diterima oleh Allah selama 40 hari.
Apabila kita sampai percaya tentang ramalan tersebut seperti yang dikatakan oleh peramal, tukang sihir, dukun dan sejenisnya maka kita telah berbuat dosa musyrik karena mempercayai sesuatu selain dari apa yang sudah ditetapkan oleh Allah.

Seperti yang kita ketahui bahwasannya ramalan seperti itu seringkali muncul di koran, internet, tv, aplikasi dan masih banyak lagi. Jadi dengan begini kita harus hati-hati agar tidak terpengaruh oleh hal semacam itu. Semoga allah menjauhkan dari kesesatan, amin.

Referensi:
Diakses pada 18 Desember 2019
https://rumaysho.com/688-dosa-besar-akibat-membaca-ramalan-bintang.html
https://muslim.or.id/7970-hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html

Comments